Menjadi Pribadi NOL


Untuk mengarungi kehidupan kita membutuhkan KEKUATAN, setuju??. Kekuatan untuk survive, kekuatan untuk menafkahi keluarga, kekuatan untuk berkarya, juga kekuatan untuk memimpin. Pertanyaannya, sudahkah kita mempunyai kekuatan yang kita butuhkan??. Jika belum, bagaimana kita dapat memperolehnya?.

“Sesungguhnya kekuatan kita tidak terletak pada melimpahnya harta atau banyaknya pasukan. Kekuatan terbesar justru akan kita dapatkan ketika kita berhasil menjadi NOL lalu menyandarkan segela penyempurnaan urusan padaNya”

Menjadi NOL adalah menjadi pribadi yang menyadari betul bahwa tidak ada kekuatan pertolongan selain ALLAH. Sebuah kesadaran yang tidak hanya dibentuk oleh akal, apalagi hanya dinyatakan oleh lisan. Inilah kesadaran yang dibentuk oleh keseluruhan akal, hati, jiwa dan raga secara bersama-sama. Kesadaran yang dengan tegas menyatakan bahwa diri kita ini NOL, nothing, tidak berdaya sama sekali, kecuali ada intervensi dari Dia Sang Penguasa Alam Raya.

Kesadaran yang menyatakan bahwa yang paling tahu kebutuhan kita adalah Allah yang Maha Tahu. Kemampuan ilmu, kekuasaan, dan harta kita sejatinya tidak cukup untuk mengurus kebutuhan kita sendiri, apalagi mengurusi kebutuhan keluarga dan orang lain. Inilah pemahaman dasar menuju pribadi NOL.

Jika diri kita telah menjadi pribadi NOL, maka otomatis prioritas orientasi kita akan berubah. Pasti itu. Langkah demi langkah kita akan berubah, dari yang sebelumnya pengumpul harta berubah menjadi pemburu ridha Ilahi. Kita bekerja bukan lagi untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup, karena yang memenuhi kebutuhan hidup adalah Allah, dengan cara-cara terbaiknya. Bekerja adalah untuk mengumpulkan amal, untuk menunaikan tugas-tugas kekhalifahan di muka bumi, bukan sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Profesionalisme pun bukan sekedar tuntutan kerja melainkan ikhtiar meneladani Sang Rasul, kekasihNya.

Kalau sudah demikian, Allah Sang Muhaimin pasti akan mengurus kehidupan kita, lebih presisi dan lebih hebat dibandingkan jika kita yang mengurus diri kita sendiri. Dia akan memenuhi kebutuhan kita. Jika kita butuh kaya, Dia akan memberi kaya. Jika kita butuh mobil, Dia akan menyiapkan mobil. Jika kita butuh periode miskin, Dia akan ambil beberapa harta kita. Dan seterusnya …

Manakah yang kita pilih, keperluan kita diurus oleh kita atau diurus oleh Allah?. Maka, menjadi Pribadi NOL, inilah cita-cita kita.

Sumber disini


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s