Keikhlasan yang berbuah Kemudahan


Ikhlas pin
Gambar

Ibnu Umar ra. mengatakan bahawa ia mendengar Rosulullah SAW bersabda, “Ada tiga orang diantara orang orang sebelum kalian yang berpergian, hingga mereka mendapatkan tempat persinggahan di sebuah goa. mereka kemudian masuk ke dalam goa tersebut. tak berapa lama kemudian, beberapa batu besar runtuh hingga menutup goa tersebut. salah seorang diantara ketiga orang tersebut berkata, “sungguh tidak ada yang dapat menyelamatkan kita dari timbunan batu batu ini kecuali kita minta pertolongan kepada Allah dengan amal amal shalih kalian.”

Maka salah seorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku mempunyai orangtua yang telah tua renta. Aku tidak pernah minum susu sebelum mereka berdua minum. Ini sudah menjadi kebiasaan keluarga kami, untuk menghormati (mendahulukan) anggota keluarga kami yang lebih tua. Pada suatu hari, aku harus mencari ranting ranting pohon dan harus berjalan jauh hingga aku pulang setelah petang hari. takkala sampai dirumah, ternyata keduanya sudah tertidur. Akupun memerah susu untuk minuman keduanya, meskipun mereka berdua telah terlelap tidur. Aku tetap enggan meminum susu tersebut sebelum mereka berdua minum. Inilah kebiasaanku, maka gelas susu tersebut tetap berada di tanganku. Kutunggu hingga keduanya bangun dari tidurnya, hingga waktu fajar pun menyingsing tiba. (Sementara itu, anak anak di sekelilingku menjadi gaduh karena saling meminta susu. Namun, aku tetap enggan memberikan karena kedua orangtuaku -yang berarti kakek nenek mereka- belum minum. Akhirnya kedua orangtuaku bangun dan minum susu yang telah kupersiapkan sejak petang kemarin. Sesudah itu barulah kami minum, termasuk anak anakku. Ya Allah, jika apa yang kulakukan itu karena mencari Keridhaan-Mu, maka bebaskanlah kami dari jebakan batu yang menutupi pintu goa ini!”

Maka batu batu yang menutup gua itupun bergeser sedikit, namun belum cukup untuk keluar dari dalam gua.

Berikutnya, orang yang kedua berkata, “Ya Allah aku mempunyai seorang keponakan yang sangat kucintai karena kecantikannya. Aku bermaksud hendak memilikinya, namun dia selalu menolak pinanganku. Suatu ketika takkala masa paceklik tiba, kesulitan ekonomi yang mendera keluarga keponakanku membuatnya menderita hingga sampai ke puncaknya. Kondisi demikian telah memaksa dirinya menuju ketempatku untuk memohon bantuan guna memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya. Aku bersedia memberikan beberapa dinar untuk keperluan hidupnya dengan syarat dia bersedia merelakan dirinya untukku. Akhirnya akupun dengan leluasa mampu memperdayainya hingga ia tak berdaya menyerahkan kehormatannya. Ketika aku hendak melakukan sesuatu yang memang bukan menjadi hakku, gadis mulia itu mengingatkan bahwa aku tidak semestinya menyentuh dan menikmati sesuatu yang bukan hakku. Akupun terkejut. Akupun tersadar. Akupun menjadi sungkan untuk menjamahnya. Segera aku tinggalkan gadis manis itu dengan beberapa dinar yang telah kuberikan dan memang kurelakan. Ya Allah, jika aku melakukan ini karena mencari keridhaan-Mu, maka keluarkanlah kami dari kesulitan ini.”

Sekali lagi, Atas izin Allah, batu itu bergeser lagi beberapa inci dari mulut goa. Tetapi celah itu masih terlalu sempit untuk dilewati. Kondisi ini belum memungkinkan tiga orang tersebut keluar.

Orang yang ketiga pun akhirnya berdo’a, “Ya Allah, sesungguhnya aku pernah memiliki tiga orang buruh, yang upahnya selalu aku berikan kepada mereka. Namun, Ya Allah, suatu ketika ada satu orang diantara mereka tidak datang untuk mengambil haknya itu. Akupun mengembangkan upahnya itu hingga menjadi harta yang berlimpah limpah. Mula mula aku belikan seekor kambing, kemudian beranak pinak hingga menjadi puluhan ekor kambing. Berkembang lagi menjadi sapi. Berkembang lagi menjadi onta. Hingga berkembang terus sampai aku memerlukan beberapa sahaya (yang harus merawatnya). Hingga suatu saat, tiba tiba orang itupun datang hendak meminta upah yang belum diambilnya beberapa tahun silam. Maka, seluruh kambing, sapi, onta, dan sahayanya itu aku berikan kepadanya, karena semuanya merupakan pengembangan upahnya. Mula mula ia mengira bahwa aku berolok olok. Tetapi, setelah aku meyakinkan, ia pun mengambil semuanya tanpa menyisakan sedikitpun dari harta itu. Ya Allah, jika aku melakukan itu karena mencari keridhaan-Mu, maka keluarkanlah aku dari kesulitan ini. Singkirkanlah batu yang menutup pintu goa ini, hingga kami mampu keluar dari kesulitan ini.”

Ternyata, batu batu itu pun segera berguguran, bergeser dari mulut gua hingga memberikan jalan yang memungkinkan tiga orang tersebut keluar dari goa.” (HR Bukhari-Muslim)

dikutip dari Buku “Teladan tarbiyah dalam bingkai Arkanul Bai’ah”
Penulis : Parman Hanif, M.Pd, tahun 2006, Penerbit Auliya Press. Surakarta

Hopefully the Lord guide us to learn ikhlas in every single moment in our life, Aamiiiin



		

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s