Memilih Metode/aliran MPASI untuk Bayi


Bagi mommy baru, sebagian ada yang dengan mudah dapat memilih metode/aliran MPASI yang akan diterapkan pada bayinya. Bagi saya sendiri memilih metode ini ada gampang dan sulitnya. Banyak metode/aliran yang berkembang dengan kelebihan dan kekurangan nya masing masing. Tanpa mengenyampingkan pilihan mommy lain yang barangkali berbeda, saya ingin sekedar bertukar fikiran mengenai alasan saya dalam memilih metode/aliran MPASI yang mungkin dapat menjadi sebagian pertimbangan mommy dalam menentukan metode/aliran MPASI yang dirasa cocok untuk bayinya.

Metode/aliran MPASI yang berkembang pada intinya dapat digolongkan menjadi tiga jenis yaitu ;
1. Metode yang mengacu pada komposisi MPASI. Ada metode MPASI versi WHO Unicef atau Food Combining.
2. Metode yang mengacu pada proses pemberian MPASI.
Baby Led Weaning (bayi makan sendiri) atau disuapkan.
3. Metode yang mengacu pada proses pembuatan MPASI sendiri.
Ada Mpasi Homemade atau MPASI Instan.

Bagi saya pribadi, No 3 menjadi metode yang paling mudah saya tentukan. Kelebihan MPASI Instan adalah praktis dalam pembuatan dan penyajian nya, dan umumnya mengandung komposisi yang cukup lengkap baik dari bahan bahan maupun vitamin yang difortifikasi kedalamnya. Meskipun di klaim tanpa bahan pengawet dan zat aditif lainnya, serta dalam regulasi di WHO dan BPPOM juga sudah mengatur mengenai hal tersebut, tetapi saya sendiri lebih prefer Menggalak kan makanan yang dimasak sendiri dirumah. Alhamdulillah saya diberi nikmat rekan kerja yang dapat membantu pekerjaan rumah tangga sehingga saya dapat lebih fokus untuk mengurus keperluan bayi termasuk makanannya. saya menjadi lebih yakin dalam pemilihan bahan, proses memasak dan kandungan nya yang dapat saya tentukan&olah sendiri sedemikian rupa.

selain itu, susah sekali mencari MPASI instan yang bebas dari gula dan garam, bahkan terkadang terlalu manis atau terlalu asin/gurih, belum lagi jika ada tambahan perisa/penyedap didalamnya. Mengingat saya berusaha menghindari konsumsi gula garam tambahan untuk bayi sebelum usia 1 tahun karena memang belum di butuhkan oleh tubuhnya(tercukupi pada ASI), otomatis MPASI Instan tidak mendukung keinginan saya.

Terakhir, seperti penelitian yang dikutip oleh konselor laktasi mba fatimah berliana, terdapat bukti/evidence bahwa anak anak yang tereskpose/mendapatkan beragam makanan sehat dan alami, di masa mendatang akan memilih sendiri makanan sehat seimbang yang memenuhi kebutuhan nutrisinya.. saya sendiri turut merasakan bukti penelitian tersebut, dimana orangtua (dengan latar belakang pendidikan kimia) sedari kecil terbilang cukup disiplin dalam mengatur pola makan dan kandungannya sehingga saya lebih suka memakan makanan sehat, banyak sayur dan buah, tanpa penyedap dan sebagainya. jadi, harapan nya kedepan bayi saya dapat terbiasa dengan pola makan yang sehat dan alami juga. Setiap pilihan ada konsekuensi nya, Adapun konsekuensi yang harus saya lakukan adalah menslotkan waktu khusus mulai dari berbelanja (membeli bahan bahan, memasak dan menyimpan nya sebelum disajikan). Awalnya saya tidak yakin dapat memasak setiap pagi (mengingat kadang jam 7 saya sudah harus tiba dikampus) maka MPASI yang telah dibuat saya bekukan untuk beberapa hari. Ketika ada waktu, saya masak MPASI untuk satu hari saja. Namun, ini tidak serta merta tanpa pengecualian. No body knows what will happent tomorrow. jika suatu waktu mengharuskan saya memberikan MPASI Instan, saya akan berikan dengan tetap memperhatikan what to do list nya juga, seperti memastikan kemasan tertutup rapat, memilih tanggal kadaluwarsa yang masih cukup lama, membaca kandungan nya, memastikan produk dalam kondisi tidak berbau, tidak memiliki tekstur dan rasa yang aneh serta mengikuti saran penyajian yang direkomendasikan.

No 2 relatih lebih mudah dari no 1. Metode Baby Led Waening sendiri disebutkan dapat mendidik bayi agar mandiri khususnya dalam hal makan dan bereksplorasi dengan makanan nya. Meski bayi saya sudah bisa duduk dan memegang benda benda dengan tangan nya, saya tidak yakin ia bisa memakan makanan nya sendiri hingga habis setiap kali makan. Oleh karena itu saya prefer memilih untuk menyuapkan nya. namun, seperti point 1. metode BLW ini tidak serta merta saya abaikan, sesekali saya tetap memberikan waktu khusus untuk hani memegang dan menyuapkan makanan nya sendiri. Secara alamiah bayi sudah diberi potensi untuk tertarik dan mampu meniru ketika melihat orang di sekitarnya makan. Ketika saya sedang makan, bayi saya ingin ikut memakan makanan saya dengan tangan nya sendiri. Saya berikan makanan yang lembut dalam ukuran yang sedang untuk menghindari bayi tersedak ketika memakan nya. contoh pisang, ubi cilembu, semangka, labu kukus dan sebagainya.

Sementara no 1 butuh waktu yang cukup lama dan proses yang tidak sebentar untuk memutuskan nya. Setelah baca sana sini, diskusi dengan suami, tanya dokter&ahli gizi. Akhirnya saya putuskan mengikuti aliran MPASI nya WHO Unicef (sebagai panduan utama) dalam pemberian komposisi makanan dalam MPASI. Untuk bahasan lebih lengkap mengenai metode MPASI WHO UNicef silahkan di rujuk di di http://whqlibdoc.who.int/hq/2000/WHO_NHD_00.1.pdf dan http://whqlibdoc.who.int/paho/2003/a85622.pdf. Intinya, bayi diberi asupan makanan yang beragam meliputi unsur protein, hewani dan nabati, kacang kacangan, sayur, buah, karbohidrat, minyak dan lemak. Metode ini saya pilih dengan pertimbangan mengantisipasi bayi kurang/mall nutrisi. contohnya zat besi sebagai micro nutrient pada makanan. Hal ini terjadi karena komposisi nutrisi ASI apalagi sufor khususnya zat besi sudah tidak mencukupi kebutuhan bayi di 6 bulan keatas pertumbuhan nya. Pada MPASI versi food combining, dapat dibaca di http://tinyurl.com/m7s96as, bayi baru baru diberi asupan protein hewani pada usia 8 bulan. 6-7 bulan buah dan sayuran. Pertimbangan utama nya adalah buah buahan dapat diserap lebih cepat dibanding jenis makanan yang lain. tepatnya, buah buahan diserap dalam waktu 30 menit, sayuran 1 jam, karbohidrat 2 jam dan protein hewani 3 jam dengan analisis bahwa usus bayi yang sebelumnya terbiasa dengan makanan yang cair (ASI/Sufor) dan lebih cepat diserap perlu penyesuaian makanan yang masuk dan dicerna oleh tubuhnya secara bertahap.

Sementara disisi nutrisi, sayur dan buah (non heme) mengandung zat besi yang lebih sedikit dan sukar diserap oleh tubuh, sementara kebutuhan bayi sudah 7-8 mg perhari atau 1-2 mg/kg/hari. Kebutuhan ini menurut perkiraan kasar saya (bukan perhitungan dari dokter) masih belum dapat dicukupi dengan hanya 2-7 sendok makan MPASI dalam 1-3 kali sehari pada usianya 6-7 bulan dari buah&sayuran saja. Menambah porsi makan bayi juga bukan pilihan yang tepat karena pada usia ini ASI masih makanan utama dan MPASI hanya pendamping.

Senada dengan penelitian yang dipublis oleh IDAI dalam web nya bahwa angka kejadian ADB (anemia defisiensi besi) pada anak Indonesia cukup tinggi sekitar 40-50%. Meskipun tidak ada korelasi langsung antara dua hal tersebut, disini, pertimbangan saya murni lebih berat kearah mengantisipasi bayi mengalami malnutrisi, yang dapat berakibat pada tumbuh kembang bayi baik jangka pendek dan jangka panjang. Menurut berbagai sumber yang saya baca, dampak kekurangan zat besi jangka pendek antara lain kurang daya serap gizi oleh tubuh, sehingga menimbulkan bayi/anak pucat, mudah lelah, kurang nafsu makan, kurang berat badan. Adapun dampak jangka panjang jika terus menerus dibiarkan hingga memasuki masa kanak kanak dapat menyebankan perkembangan otak kurang optimal, kemampuan oramotor kurang terstimulasi, kurang konsentrasi dan sebagainya.

Dalam hal ini, bukan berarti bayi yang diberi asupan gizi versi WHO UNICEF pasti tidak mengalami defisiensi gizi khususnya zat besi, tetapi lebih kepada usaha antisipasi untuk memenuhi kebutuhan tersebut. The last but least, tetap saja metode ini saya combine dengan metode food combining yang salah satu ajaran nya untuk sarapan dengan buah di pagi harišŸ™‚

Terlepas apa pilihan mommy tentu tidak bisa disamakan antara satu dengan lain nya karena kondisi setiap bayi yang lahir unik dan kondisi mommy juga berbeda. Semoga apapun pilihan nya bayi kita tumbuh sehat dan kita senantiasa diberi kemudahan untuk mengupayakan yang terbaik semampu sesuai dengan kondisi masing masing..



		

8 thoughts on “Memilih Metode/aliran MPASI untuk Bayi

  1. Pingback: Thousand Days | Samudra Kehidupan

  2. Pingback: A Thousand Days | Samudra Kehidupan

  3. Tapi emang bener lho kl sedari kecil anak sdh dijaga makannya dan diperkenalkan dg sayuran, pas besarnya nanti dia doyan makan sayur. saya sudah membuktikannya.
    Ga susah menyuruh anak makan sayur

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s