Resume Materi “Adab Menuntut Ilmu” #IIPWeek1


Judul nya mungkin bukan hal yang baru kita dengar.. entah itu adab dalam menuntut ilmu atau adab dalam majlis ilmu.. tapi setelah dibaca tetap aja ada hal hal membuat kita mangut mangut sendiri, bahkan menyerngitkan dahi.. sedikit pengantar ini menjadi pengingat dan penyemangat bahwa selama ini masih lalai dan harus berbenah 🙂

Jadi dalam menuntut ilmu itu, baik pada proses mencari nya dan menyebar luaskannya pun ada adab nya, tidak sesuka hati saja. Kita diminta beradab dulu sebelum berilmu. Mungkin semakin kesini hal ini terkesan klise, yang penting mah otaknya (ilmu).. adab urusan sekian..

?

wait a minutes.. Lets talk about it..

baca : Skenario Program Matrikulasi IIP (Institut Ibu Professional)

Mungkin pernah kita berfikir kenapa ada peribahasa di muka bumi ini, tidak hanya di indonesia tapi di seluruh dunia. Pastilah peribahasa itu lahir sebagai refleksi atas kearifan lokal yang ada di daerah tersebut. refleksi itu menyiratkan pelajaran yang perlu di perhatikan oleh orang orang yang mendapatkan nya.

Sebutlah ada peribahasa “bagaikan mengisi gelas yang sudah penuh”.. bisakah kita mengisi gelas yang sudah penuh? tentu tidak, air yang kita tuangkan itu akan meluber keluar. seperti itulah kiasan nya orang yang merasa dirinya sudah tau, apa yang disampaikan tidak akan masuk, malah mental. siap menuntut ilmu artinya siap mengosongkan gelas dalam hati dan fikiran kita agar ilmu tersebut dapat kita resapi dan amalkan. Tapi, jika kita memang benar benar sudah tau dan yakin.. tentu tak masalah, kita dapat membantu menjelaskan kepada oranglain yang belum faham dengan adab yang baik. Jika ilmu tu disampaikan oleh seorang guru/pemateri jangan memotong pembicaraan nya untuk kemudian menjelaskan apa yang kita ketahui, minta izinlah untuk bertanya atau berkomentar ketika guru/pemateri sudah selesai berbicara. Ingat, mereka adalah pintu kita mendaptkan ilmu, perlakukan dengan hormat agar Sang Maha Pemilik Ilmu pun ridho karena kita berusaha mencari keridhoan guru kita.

Kita pun sering mendengar pepatah arab. Man jadda wa Jadda. Siapa yang berusaha dia akan dapat. Pepatah ini berkaitan dengan sikap sungguh sungguh dalam menuntut ilmu. Adab nya para penuntut ilmu harus bersungguh sungguh. jika kita tidak niat dan komitmen untuk belajar, apa mungkin ilmu akan datang dengan sendirinya dan lengket di kepala kita. pada prakteknya kalau kita menuntut ilmu di dalam majlis/kelas, tentulah kita ingin hadir paling awal dan duduk mendengarkan dengan seksama. Mengerjakan latihan yang diberikan agar apa yang kita pahami dapat terklarifikasi melalui pengerjaan tugas tersebut.

Kadang kita mengeluh, kenapa susah sekali untuk belajar ini, belajar itu.. hampir hampir kita putus asa.. ingat lagi pepatah dalam bahasa inggris, to begin is always the hardest part.. yeay.. ilmu itu terasa sulit sekali ketika kita baru mulai mempelajari nya, disinilah adab kesabaran berbicara. seperti bayi yang baru belajar berjalan.. ada masa nya ia terjatuh, dan terjeduk, mungkin kakinya akan sakit atau terkilir. tapi semangat nya tak pernah padam.. terus berusaha hingga akhirnya ia bahkan lupa bagaimana rasanya belajar berjalan..

Ketika ilmu sudah didapat, perlukah kita mencatat nya kembali? ingat lagi kata petuah, ikatlah ilmu dengan menuliskan nya.. ilmu yang sudah kita dapatkan, akan semakin lengket di kepala ketika kita menuliskan nya kembali. dalam proses menuangkan ilmu itu otak akan memanggil kembali memori kita yang terekam, sekaligus juga memori tentang hal hal lain yang berkaitan dengan ilmu tersebut sehingga kita mendapatkan sebuah view yang utuh yang memperdalam pemahaman kita. pun ketika kita membutuhkan, catatan itu sebagai alternatif rekam fisik terhadap ilmu yang kita dapatkan, siapa lah yang bisa menjamin ingatan nya hari ini akan sama dengan esok hari..

Catatan maupun buku sebagai sumber ilmu pun harus kita perlakukan dengan sebaik baiknya. Berkenaan dengan Al Quran sebagai kitab suci, kita sudah tentu tidak meragukan nya lagi, tetapi bukan hanya kitab suci. Buku buku sumber ilmu lain pun memiliki hak yang sama. Terkait hal ini, saya teringat pada orangtua dan suami saya. dimana papa adalah seorang yang suka belajar dan memiliki buku buku yang sangat banyak.. pernah rumah kami di renovasi dan tak ada tempat untuk rak rak buku kesayangan papa yang selalu saja bertambah itu. kemudian mama menempatkan sebagian buku buku tersebut di dalam bekas kandang burung yang kami buat diatas kolam ikan. alangkah sedihnya hati papa. pun ketika pernah terucap di bibir ini ingin meloak kan saja buku buku yang rasanya sudah “usang” pada suami, mendengar itu suami pun lantas menasehati. Mungkin, begitulah cermin ketika seseorang sangat menghargai sumber sumber ilmu.

The last but not the least.. Bagaimana pula adab ketika ingin menyampaikan kembali ilmu yang kita terima?.. ini kaitan nya dengan literasi media.  sebagaimana sih literasi media ini? apakah sesederhana kalimat yang belakangan jadi judul buku “copas dari sebelah”? 😀

Saya coba definisikan menjadi beberapa kondisi :

  1. Jika ilmu itu di dapat dari guru. Cek apakah ada disclaimer bahwa ilmu itu boleh disebarluaskan? jika ya, maka perhatikan lah reference nya, dengan  menyebutkan/mencantumkan nama guru sebagai pengakuan dan penghargaan terhadap hasil pemikiran nya. Jika tidak ada, maka minta izinlah pada guru tersebut terlebih dahulu, jika di izinkan. silahkan di sebarluaskan. jika tidak, maka tahanlah keinginan kita untuk menyebarluaskan nya.
  2. Jika ilmu itu di berikan dalam sebuah seminar, dan tanpa disclaimer boleh/tidak nya menyebarluaskan nya. maka ketika kita me-resume materi dari pemateri, adab nya ialah kita meminta izin pada 2 pihak. Pertama pemateri itu sendiri, yang kedua adalah pihak panitia yang menyelenggarakan acara tersebut. Bila perlu, kita dapat memperlihatkan resume yang kita buat untuk kemudian di crosschek lagi kesesuaian nya oleh pemateri.
  3. Jika kita mendapatkan sebuah ilmu atau katakan lah sebuah informasi, terlebih dalam era digital saat ini. Penting bagi kita melakukan crosschek terhadap ilmu/konten tersebut. Apakah benar dituliskan oleh penulis yang disebutkan?, Apakah yang bersangkutan memiliki latar belakang keilmuan yang memadai mengenai hal tersebut? Apakah media nya kredibel? dan sebagainya.. Saya teringat lagi dengan pesan whatsapp yang sempat vital mengenai Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah, ditulis oleh ustadz Syafiq Riza Basalamah. Membaca nya saya bertanya tanya, apa benar ini ditulis oleh ustad tersebut?, Melihat gaya bahasa yang saya rasa ustad tersebut lebih halus dan netral lagi. Tetapi niat untuk crosschek saya urungkan dan membiarkan saja pesan pesan itu berseliweran tanpa mengikutinya (padahal seharusnya saya tetap melakukannya). Belakangan beredar klarifikasi bahwa tulisan itu bukan dibuat oleh ustad tersebut. Bisa jadi, para pendengar/pembaca tulisan beliau yang kurang pas dalam menyimpulkan apa yang beliau sampaikan. Contoh lain yang tidak dapat diterima misalnya mengenai penetapan halal dan haram oleh MUI, tetapi yang mengomentari adalah para artis, dalam program infotaiment pula.
  4. Ketika kita mengutip dari sebuah buku yang memang diperjual belikan, maka kita diperbolehkan mengubah redaksional nya namun masih memiliki makna yang sama dan mencantumkan penulisnya dan keterangan pelengkap lainnya seperti penerbit, tahun terbit dan sebagainya. Hal ini untuk menghindari plagiarisme. Setali tiga uang dengan paper/jurnal dan artikel di web. Begitu juga status yang disetting public, dapat di share dengan tetap merujuk pada penulisnya.
  5. Jika kita mengetahui sebuah ilmu, tetapi lupa siapa yang menuliskan/menyampaikan nya, maka kita perlu mencari tahu dulu, jika perlu jawaban sementara maka kita bisa katakan bahwa pernah mendengar tapi akan di cari tahu lagi. Itu sebagai bentuk tanggung jawab kita terhadap apa yang kita sampaikan. Cukuplah seseorang dikatakan pembohong jika ia menyampaikan semua yang ia dengar. artinya tidak melalui proses crosschek atas valid atau tidak nya informasi tersebut.
  6. Lalu bagaimana dengan artikel yang menyebutkan copas dari grup sebelah? jika memang tidak ada nama penulisnya hindari untuk menyebarluaskan nya, meskipun tu “baik”. Tidak semua yang baik itu benar. Agar kita tidak ber lepas tangan terhadap kebenaran dari info tersebut.

Bagaimana jika adab tersebut dilanggar? Hanya segelintir poin poin itu yang termaktub secara khusus pada peraturan perundangan di negara kita. Olehkarena itu, sebenarnya semua adab tersebut seyogyanya menjadi kesadaran dalam diri kita masing masing. Karna adab bukanlah kata kata, tetapi adab adalah sebuah keteladanan.

Untuk lebih detailnya boleh simak dua artikel lengkap nya dibawah ini :

Matrikulasi Ibu Profesional Sesi #1
Disusun oleh Tim Matrikulasi- Institut Ibu Profesional
Di publish di grup Wa Matrikulasi IIP Bandung17 Oktober 2016 Pukul 08.00 WIB

1. ADAB MENUNTUT ILMU

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu terlebih dahulu, sebelum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Padahal barang siapa orang yang menimba ilmu karena semata-mata hanya ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya, namun barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan sangat bermanfaat baginya.

Karena ILMU itu adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU. ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya

Adab menuntut ilmu adalah tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu, sehingga terjadi pola harmonis baik secara vertikal, antara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu, maupun secara horisontal, antara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri.

Mengapa para Ibu Profesional di kelas matrikulasi ini perlu memahami Adab menuntut ilmu terlebih dahulu sebelum masuk ke ilmu-ilmu yang lain?

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan.

Para ibulah nanti yang harus mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya

ADAB PADA DIRI SENDIRI

a. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati.Karena ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.

b. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu, Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.

c.Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan.

d.Menuntaskan sebuah ilmu yang sedang dipelajarinya dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.

e. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan. Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

ADAB TERHADAP GURU (PENYAMPAI SEBUAH ILMU)

a. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati, menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.

b. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara.  Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan untuk kedua kalinya.

c. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru, ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, dengan cara meminta ijin. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/ sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

ADAB TERHADAP SUMBER ILMU

a. Tidak meletakkan sembarangan atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.

b. Tidak melakukan penggandaan, membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersiil, sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.

c. Tidak mendukung perbuatan para plagiator, produsen barang bajakan, dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.

d. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.

e. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik.

Adab menuntut ilmu ini akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, shg mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat.

Sumber :

  1. Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
  2. Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah, 2014, hlm. 5
  3. Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015

2. LITERASI MEDIA

By: Septi Peni Wulandani

Apa sebenarnya literasi media itu? Istilah literasi media mungkin belum begitu akrab di telinga kita. Masyarakat mungkin masih terheran dan kurang paham jika ditanya apa sebenarnya literasi media tersebut. Para ahli pun memiliki konsep yang beragam tentang pengertian literasi media, McCannon mengartikan literasi media sebagai kemampuan secara efektif dan secara efesien memahami dan menggunakan komunikasi massa (Strasburger & Wilson, 2002).

Ahli lain James W Potter (2005) mendefinisikan literasi media sebagai satu perangkat perspektif dimana kita secara aktif memberdayakan diri kita sendiri dalam menafsirkan pesan-pesan yang kita terima dan bagaimana cara mengantisipasinya.

Salah satu definisi yang popular menyatakan bahwa literasi media adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan isi pesan media. Dari definisi itu dipahami bahwa fokus utamanya berkaitan dengan isi pesan media.

Untuk memahami definisi literasi media lebih mendalam sebaiknya dipahami pula bahwa terdapat tujuh elemen utama di dalamnya. Elemen utama di dalam literasi media adalah sebagai berikut:
1) Sebuah kesadaran akan dampak media terhadap individu dan masyarakat
2) Sebuah pemahaman akan proses komunikasi massa
3) Pengembangan strategi-strategi yang digunakan untuk menganalisis dan membahas pesan-pesan media
4) Sebuah kesadaran akan isi media sebagai ‘teks’ yang memberikan wawasan dan pengetahuan ke dalam budaya kontemporer manusia dan diri manusia sendiri
5) Peningkatan kesenangan, pemahaman dan apresiasi terhadap isi media. (Silverblatt, 1995)

Dulu jaman saya kuliah, susaaaaah banget unt dpt informasi, harus datang ke perpustakaan kota dan propinsi. Tapi sekarang di era digital anak2 dan kita kebanjiran informasi. Era broadcast semarak muncul dimana2 didasari satu hal baik yaitu ingin berbagi.
Nah bagaimana seharusnya kita menyikapi hal tsb?
1. Tidak semua berita baik itu benar, prinsip ini yg harus dipegang pertama kali
2. Telurusi unsur kebenarannya sebelum kita menyebarkan hal baik tersebut
3. Pastikan dari sumber yang terpercaya (mulai dari buku, orang yg lsg mengalami, media kredibel)
4. Hindari kalimat copas dari grup sebelah, krn ini scr implisit “bukan saya yg bertanggung jawab atas kebenaran berita ini, saya hanya menyebar saja”
5. Kuasai materi skeptikal thinking dengan baik di era banjirnya informasi ini
6. Apabila kita ingin share hasil resume sebuah grup, mohon tuntas, jangan ada bagian yang dipotong, krn resume merupakan gambaran hasil dari sebuah diskusi. Dan jangan lupa ijin dengan penulis resume tersebut.
7. Apabila ingin mereview sebuah diskusi di group sebaiknya kita kemas dg pola pemikiran dan gaya bahasa kita, tdk hanya sekedar copas hasil diskusi. Jangan lupa cantumkan sumber dengan jelas : nama group dan nama pemateri/narasumber

Salam Ibu Profesional,

/Septi Peni Wulandani/
Twitter : @septipw
FB : Septi peni wulandani
Email : septipeni@gmail.com

3 thoughts on “Resume Materi “Adab Menuntut Ilmu” #IIPWeek1

  1. Pingback: Jurusan apa sih yang ingin ditekuni #1-NHW(IIP) | Samudra Kehidupan

  2. Pingback: Jurusan apa sih yang ditekuni #1-NHW(IIP) | Samudra Kehidupan

  3. Pingback: Skenario Program Matrikulasi IIP (Institut Ibu Professional) | Samudra Kehidupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s