Membangun Peradaban, Sebuah Refleksi diri #NHW3(IIP)


Sebuah Peradaban sejatinya dimulai dari peradaban kecil bernama keluarga. Jika ingin membangun sebuah peradaban, mulai lah dari membangun keluarga, membangun jasad dan ruh keluarga.

“Tugas utama dalam membangun peradaban adalah mendidik anak anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai dengan keinginan kita”

Kutipan ini sama persis dengan salah satu ilmu parenting yang pernah saya baca dari ustad Fauzil Adhim yang juga seorang dosen dan praktisi parenting.

“Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “_misi spesifiknya_”, tugas kita memahami kehendaknya”

Yups, menurut hemat saya. Misi ini tentu bersesuaian dengan apa yang tertera dalam surat Adz Dzariyat ayat 56 sudah jelas Allah katakan “Tidak aku ciptakan jin dan manusia selain untuk beribadah kepadaku “

Artinya pertama tama, kita mestilah mendidik anak menjadi anak yang shaleh shaleha. Karena anak pada hakikatnya adalah aset bagi orangtua, membesarkan dan mendidik nya sesuai dengan ketentuan agama saja sudah menjadi pahala bagi orang tua. Apalagi jika dengan didikan kita anak tersebut menjadi anak yang shaleh/shaleha.. Tentu melipatgandakan pahala tanpa mengurangi amalan nya sedikitpun.. Dan jangan lupa, do’a anak yang shaleh adalah amal yang tiada putus mengalirnya meski maut telah memisahkan kita.

dilain ayat Allah katakan, bahwa Allah menciptakan manusia di muka bumi ini adalah untuk menjadi khalifatul fil ardh.. Pemimpin yang menjadi rahmat bagi sekalian alam. Pemimpin bagi kaum muslimin sebagaimana do’a nabi Ibrahim, pemimpin bagi keluarga dan pemimpin bagi diri nya sendiri..

Untuk memenuhi tujuan peradaban itu, maka segala sesuatu nya hendaknya dimulai sejak sebelum pernikahan itu sendiri.

“dimulai dari fase memantaskan diri sebelum menemukan partner yang cocok.. Memantaskan diri ini meliputi memaafkan segala kesalahan yang barangkali pernah dilakukan oleh orangtua dan kembali mencintai dan menghormati mereka dengan tulus.. “

Ada beberapa poin yang mesti jadi renungan dan titik bersikap bagi yang belum menikah dalam mempersiapkan peradaban.

karena

“Orang yang belum selesai dengan masa lalunya, akan menyisakan banyak luka ketika mendidik anaknya kelak”

Bagi pasangan yang telah menikah dan juga dikaruniai anak, ada beberapa catatan yang perlu kita renungkan dan kita jawab. Yaitu;

Temukan Keunikan Positif pada Suami

“Coba ingat ingat mengapa dulu memilih dia sebagai suami? Apa yang membuat kita jatuh cinta pada suami? Apakah saat ini masih bangga nya?”

Untuk mendukung penghayatan ini, kita diminta untuk membuat surat cinta untuk suami. Tidak hanya disuruh membuat surat cinta, tetapi jatuh cinta kembali. Buatlah surat cinta yang menjadikan kita memiliki “alasan kuat” bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak kita. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.

–> Untuk menjawab poin ini, surat cinta nya saya buat dalam bentuk artikel mengenai makna sebuah romantisme menurut saya, sudah saya posting pada artikel sebelumnya.

baca : Romantis Itu..

Respon suami awalnya tidak percaya, hehe.. Beliau mungkin tidak ingat telah melakukan hal hal tadi dalam pernikahan kami sejauh ini.. Itu belum seberapa sebenarnya.. Beliau juga berterimakasih, meskipun katanya beliau tau masih banyak kekurangan.. :-* :-*

Temukan Keunikan Positif Diri kita

“Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki laki yang menjadi suami kita sekarang? Apa pesan rahasia Allah? “

Untuk mendukung penghayatan ini, kita diminta menemukan kekuatan potensi diri kita, kemudian melihat kembali anak dan suami, dan membaca kehendak Allah, mengapa kita dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yang kita miliki

–> Potensi diri ini pernah saya singgung di salah satu NHW di artikel sebelumnya.

Baca : Jurusan apa yang ingin ditekuni

Disamping hal hal itu, ada beberapa penambahan yang ingin saya lakukan.

Saya relatif dapat fokus pada substansi suatu masalah, tidak panik, tidak cengeng dan fokus pada solusi. Oleh karena itu, meskipun saat ini berada jauh dari suami yang sedang melanjutkan studi keluar negri, dan saya sendiri pun sedang melanjutkan studi dan membesarkan anak di perantauan, saya tidak bersedih hati dan tetap semangat dalam menjalani peran saya saat ini.  Karena saya yakin langkah langkah kami saat ini adalah anak tangga dari cita cita besar keluarga kami.

Saya juga tipe idealis dan realistis. Saya jika sudah memahami sesuatu dan ingin menerapkan nya. Maka saya akan berjuang untuk bisa menjalankan nya, tidak mudah takut dan gentar. Sedari kecil juga sudah menunjukkan keberanian dan sisi petualang. Tetapi, di satu sisi saya juga bisa realistis, saya dapat tolerir pada hal hal yang menurut saya bisa di tolerir, untuk mashlahat yang lebih luas.

Bersuamikan laki laki yang saat ini membersamai saya, saya melihat Allah ingin agar saya bisa mensupport langkah langkah suami dan keluarga kecil kami. Saya bisa melihat peluang kebaikan yang bisa dilakukan suami,  siap dan sabar dengan segala konsekuensi nya. Begitu juga suami kepada saya (lebih tepatnya suami yang melengkapi saya dalam banyak hal lainnya).

Temukan Keunikan Positif Anak Anak kita

“Lihat anak anak kita, mereka anak anak yang luar biasa. Mengapa rahim kita dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin dari anak anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita dipercaya untuk menerima amanah anak anak ini? Apa misi spesifik Allah mengadirkan anak anak ini ada di dalam rumah kita?”

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita diminta untuk menuliskan potensi/kekuatan diri mereka masing masing

–>Berhubung anak saya baru satu, tentu saya hanya membahas satu anak saja. Sebagian sudah saya tulis sebelumnya.

Baca : Thousand Days

Dari segi fisik, hanina alhamdulillah dikaruniai kesehatan yang cukup memadai. Ini merupakan suatu nikmat tersendiri yang saya syukuri. Meskipun dari segi fisik tidak besar/gemuk, tetapi berat badan nya alhamdulillah selalu naik dan tidak pernah sakit akut/berbahaya yang membuat saya khawatir. Bisa dikatakan jarang mengalami sakit kecil (demam/pilek/batuk/diare) dan relatif cepat sembuh jika terkena. Ini merupakan aset yang baik bagi saya untuk memaksimalkan pertumbuhan dan  pendidikan nya khususnya di masa masa emas saat ini.

Dari segi kecapakan berfikir, hanina cukup mudah diajarkan sesuatu apalagi dengan nyanyian dan gambar gambar. Memiliki daya ingatan yang kuat, dan mampu menceritakan nya kembali. Ia juga mampu mengungkapkan apa yang dirasakan nya, apa yang dinilai nya tidak sesuai dari orang lain dan apa yang di inginkan nya pada orang lain.

Dalam segi kecakapan afektif/sikap. Hanina anak yang bisa diajarkan mandiri. Meski disini saya masih kurang sabar dalam menempanya. PR kedepan dalam usia 2-4 tahun ini ialah mempersiapkan hanina bisa mengurus diri nya sendiri dari mulai bangun tidur hingga berpergian/sekolah (jika sekolah). Dalam pergaulan hanina cukup sabar terhadap anak yang mengganggu dirinya, dia biasanya akan mengadu kepada orang yang lebih tua dengan harapan yang lebih tua akan melerainya. Tetapi jika kesabaran nya sudah habis, dia bisa membalas dan tak gentar meski anak tersebut berusia dan berbadan lebih besar darinya. Selain itu, ia juga cukup apik. Meskipun terhitung cukup aktif tetapi dia bisa memperhitungkan sesuatu. Jika dinilai kursi nya terlalu tinggi ia tidak akan memanjatnya, dan meminta bantuan, tetapi jika apa yang ingin dilakukan nya dirasa masih bisa maka ia akan berjuang melakukan nya dan berhasil😉, jarang sekali hanina terjatuh atas kesalahan nya sendiri.

Saya melihat Allah ingin agar potensi yang sudah dimiliki oleh anak saya dapat dimaksimalkan oleh orangtua nya, berbekal kedua orang tua yang cukup concern dengan tumbuh kembang dan pendidikan nya. Sebagai orangtua yang berprofesi di bidang pendidikan tentu hanina punya peluang lebih besar dikenalkan dan diajarkan dalam iklim pendidikan yang kondusif. Mudah2an selain pengajaran agama, kami juga diberi kemampuan untuk mewarisi ilmu baik yang diperoleh melalui jenjang formal maupun non formal.

Temukan Keunikan Positif Lingkungan kita

Lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini, Mengapa kita bisa bertahan ditempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita diminta untuk melihat lingkungan dimana anda tinggal kini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini.

–>Saya bersyukur di pertemukan Allah dalam lingkungan yang cukup kondusif untuk akhirat dan dunia saya. Dari sisi akhirat, saya dibesarkan dari keluarga yang cukup faham agama. Masa remaja di habiskan di lingkungan agamis hingga kuliah dan kini juga berkarya di ranah akademik yang relatif lebih aman dan terkendali juga. Mungkin Allah ingin saya bisa menularkan sisi positif dan bermanfaat untuk lingkungan saya, sesuai dengan cita cita pribadi dan keluarga.

Akhir dari pencarian kita, menurut tim Institut Ibu Professional,

“Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan”

dikutip dari

TIM Matrikulasi IIP

dengan beberapa revisi

_SUMBER BACAAN_

Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013

Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016

Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015

Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

 

Related Post :

 

2 thoughts on “Membangun Peradaban, Sebuah Refleksi diri #NHW3(IIP)

  1. yang saya rangkum dari tulisan mba dian adalah kita diminta membaca.. membaca pasangan, diri, anak, lingkungan.. ayat-ayat kauliyah ya mba..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s